SHORT STORY

Wednesday, 3 June 2009

What is this ongoing-occupation-that-everyone-is-so-busy-preaching-about? Ayesha Kamaruddin’s answer scheme is: It is an alarm clock for us to get up and fight with all of our capability.

So, dear beloved brothers and sisters of Islam, let’s wash our feet from stubborn stains made by our evil enemy, and lend the soap to other ikhwah/akhawat of us.
On Saturday the 30th of May, Ayesha told us about the chronology of how Fatah and the great Hamas begins. Now, it’s your turn to know.

Awal Perjuangan Pembebasan Palestina

Palestina sebelumnya dijajah Inggris. Selanjutnya Inggris menyerahkan negara jajahannya ke Israel. Dengan kata lain, Inggris adalah negara yang melapangkan berdirinya negara Israel pada tanggal 14 Mei 1948.

Hasan Al-Banna dengan jamaahnya, Ikhwanul Muslimin, mengirim 12.000 mujahid terlatih yang terdiri dari para pemuda yang siap mewakafkan hidupnya untuk membebaskan Palestina. Begitu juga dari Suriah yang dimotori oleh Syaikh Mustofa As-Siba’i dan Muhammad Mahmud dari Iraq. Dalam waktu singkat para pejuang mampu mengimbangi kekuatan militer Israel, bahkan mengalahkan mereka di berbagai tempat.

Inggris menekan pemerintah negara-negara Arab untuk mengirim pasukan ke Palestina. Pasukan itu ditugaskan menangkapi para sukarelawan jihad dan mengembalikan secara paksa ke negara masing-masing. Para relawan jihad itu dibunuh dan sebagian besar di penjara layaknya pelaku kejahatan, tanpa adanya peradilan dan proses penegakan hukum. Tidak sampai di situ, bahkan dirancang konspirasi untuk membunuh pemimpin gerakan Ikhwanul Muslimin ini. Di tengah kesunyian pendukung jamaah Ikhwan karena mereka semua dipenjara, tokoh pendiri jamaah itu dibunuh. Hasan Al-Banna syahid menemui Rabb-nya.

Palestina Dan Skenario Internasional

Antara tahun 1948 sampai tahun 1967, selama 20 tahun tidak ada perubahan berarti bagi bangsa Palestina, karena para mujahid yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina –terutama yang berasal dari negara Mesir– ditangkap dan dipenjara. Kesempatan ini dimanfaatkan Israel memasukkan orang-orang Yahudi dari luar, berbarengan dengan upaya pembangunan pemukiman Yahudi secara besar-besaran.

Pada tahun 1965 muncul gerakan Fatah di bawah kendali PLO. Fatah didirikan oleh pemuda-pemuda Palestina yang di awal perjuangannya berorientasi pada Islam. Banyak di antara mereka dipengaruhi pemikiran pergerakan Ikhwanul Muslimin. Namun, karena suasana politik dan iming-iming kedudukan, kekuasaan, dan materi, garis perjuangan mereka berubah haluan menjadi sekular.

Pada tahun 1967 Israel berhasil menduduki Tepi Barat. Praktis, seluruh wilayah Palestina dikuasai penjajahan Israel. Melihat itu gerakan Ikhwanul Muslimin bersepakat dengan Fatah untuk mendirikan sayap militer. Mereka berlatih di Yordania yang disebut dengan Camp As-Syuyukh. Biayanya dari kantong mereka sendiri. Kadang anggota Ikhwanul Muslimin membeli persenjataan dari pihak Fatah.

Kemudian muncul lagi konspirasi dari negara-negara Eropa dengan memanfaatkan negara-negara Arab untuk mengadu domba antara para pejuang pembebasan Palestina yang berasal dari Suriah, Yordania, Mesir, Lebanon dengan orang Palestina; atau antar orang Palestina sendiri. Akibatnya, timbul fitnah besar yang menelan puluhan ribu korban pada tahun 1970.

Awal Perlawanan Intifadhah

Ikhwanul Muslimin membangun pondasi pergerakan di Palestina dengan mengirim pemuda-pemuda untuk belajar ke Arab Saudi, Mesir, Sudan, dan negara-negara Islam lainnya. Setelah mereka kembali ke Palestina, Ahmad Yasin mendirikan sayap militer bernama Hamas (Harakah Muqawamah Islamiyyah) pada tahun 1987. Sejak itu perlawanan secara massif dimulai. Tercetuslah intifadhah kubra, perlawanan dengan melempar batu di jalanan yang dilakukan oleh anak-anak dan pemuda-pemuda Palestina.

Pada tahun 1987-2000 Hamas mendirikan beragam lembaga-lembaga non pemerintah, seperti lembaga sosial, advokasi, pendidikan, ekonomi, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hamas berdakwah dan berkhidmat kepada rakyat tanpa pamrih. Hamas selalu memberi yang terbaik dan tidak pernah meminta. Sementara, citra kelompok Fatah di mata rakyat mulai negatif. Mereka hanya meminta dan tidak mau memberi. Sebagian melakukan korupsi.

Hamas Memasuki Dunia Politik

Tibalah waktunya bagi Hamas untuk memasuki dunia politik. Untuk memutuskan terjun ke dunia politik dengan mengikuti pemilu, Hamas mengadakan Pemilihan Raya Internal.
Januari 2006 dilangsungkan pemilu. Hamas ikut dengan perkiraan mendapat suara tidak lebih dari 35%. CIA, Israel, dan media negara-negara Arab juga memprediksi demikian, sehingga semua mengkampanyekan pemilu harus jurdil, bersih, dan demokratis. Mereka mengirim banyak pemantau pemilu. Anggapan mereka ketika Hamas sudah masuk parlemen dengan anggota minoritas, maka Hamas masuk dalam permainan politik mereka. Artinya, Hamas harus mengakui perjanjian-perjanjian sebelumnya dan perlawanan militer Hamas otomatis akan melemah.

Fatah juga memprediksi perolehan Hamas tidak lebih dari 35% suara. Hamas melihat hal itu sebagai tantangan. Salah satu strategi Hamas agar hasil pemilu benar-benar jurdil adalah mengecoh Fatah. Setiap orang mengaku memilih Fatah. Ketika ditanya oleh kelompok Fatah, semua menjawab aku pilih Fatah. Fatah pun mencatat 70% rakyat Palestina akan memilih mereka.

Hamas mengerahkan 50.000 personil bersenjata untuk menjaga kotak suara. Namun apa yang terjadi? Setelah perhitungan suara berakhir, diluar perkiraan: Hamas memperoleh 76% suara. Seketika itu juga jalan-jalan dipenuhi bendera hijau Hamas, sebelumnya dipenuhi bendera kuning Fatah.

Keesokan harinya Amerika Serikat marah. Israel membaikot hasil pemilu. Fatah kecewa dan menyatakan tidak akan ikut dalam koalisi pemerintahan yang dibentuk Hamas. Dan atas tekanan Amerika semua faksi yang ada di Palestina tidak boleh ikut serta dalam pemerintahan koalisi Hamas, karena Amerika berjanji akan menjatuhkan pemerintahan itu.

Ujian Berat Pemerintahan Demokratis

Abbas berjanji di depan negara-negara Arab akan menurunkan pemerintah Hamas dalam waktu tiga puluh hari. Palestina diboikot. Bangunan pemerintah, parlemen, universitas, dan sarana umum diserang dan dihancurkan. Menlu Muhamamd Ad-Dzahhar berhasil membawa dana tunai sebesar 4 juta dollar Amerika bantuan umat Islam dunia, tapi dilarang untuk dibawa masuk ke Palestina. Perdana Menteri Ismail Haniya membawa dana sebesar 30 juta dollar Amerika. Juga dihalang-halangi.

Selain menghadapi kekuatan Fatah, Hamas juga menghadapi agen atau mata-mata Israel yang direkrut dari kalangan Palestina. Mereka di bawah lembaga Amn Wiqa’i yang didanai dan dikontrol langsung oleh Israel. Mereka mengadakan teror, perusakan sarana umum, dan penghancuran gedung pemerintah. Hamas memberi warning: jika kalian sampai menghancurkan Universitas Gaza, maka kalian akan menanggung resiko yang sangat hebat. Mereka tak percaya, dan menyerang Universitas Gaza. Hanya dalam hitungan satu jam, tentara Hamas mampu menguasai kantor Amn Wiqa’i, kantor kepolisian, kantor keamanan dalam negeri dan lainnya tanpa ada perlawanan sedikit pun.

Mahmud Abbas berusaha keras menghalang-halangi pemerintahan Hamas. Menteri Penerangan yang seharusnya memiliki akses langsung ke stasiun teve, radio, dan media massa diambil alih oleh pihak kepresidenan. Pelayanan haji dan umrah, juga penjagaan perbatasan, semua di bawah lembaga kepresidenan.

Hamas bekerja sekuat tenaga. Dalam hitungan satu bulan Hamas mampu mendirikan stasiun teve, radio, media massa, dan dalam skala lokal mampu membentuk pasukan eksekutif sendiri. Rakyat melihat kerja Hamas.

Masalah lain adalah gaji para pegawai pemerintah yang selama satu tahun tidak terbayar karena bank-bank Arab dan bank di Palestina tidak mau mengucurkan dananya. Hamas terus menunjukkan keseriusannya dalam memberikan pelayanan kepada rakyat. Di sinilah simpati rakyat berlabuh.

Kepercayaan rakyat Palestina terhadap Hamas terbukti. Dalam pemilu lokal, Hamas memperoleh dukungan 100% suara.

Mereka baru sadar bahwa Hamas sangat kuat dalam hal perlawanan, politik, dan dukungan. Abbas yang sebelumnya berjanji dalam satu bulan mampu menghancurkan Hamas, satu tahun berlalu. Hamas justru makin kuat. Sehingga, mau tidak mau Abbas harus membangun kesepakatan dengan Hamas. Perundingan itu terselenggara pulan lalu di Tanah Suci Makkah.

Ada banyak hal yang disepakati dalam Piagam Makkah. Namun secara umum Piagam Makkah memberi kemaslahatan bagi bangsa Palestina. Hamas sebelumnya tidak diakui perjuangannya oleh dunia internasional, pasca perundingan itu Hamas menjadi gerakan legal dan diperhitungkan dunia internasional. Khalid Misy’al sebagai Ketua Biro Politik Hamas kini berdiri sejajar dengan Presiden Palestina, Mahmud Abbas.

p/s: Wahai anak-anak muda sekalian, bangunlah dari lihaf tebalmu.



1 comments:

iman nasuha said...

artikel ini diambil dari dakwatuna.com..bertajuk palestina pasca Deklarasi Makkah
maaf..kerana dalam bahasa indonesia..
artikel ini dipost ke dakwatuna.com pada tahun 2007..selepas Deklarasi Makkah..iaitu sebuah perjanjian yang dimeterai antara Hamas dan Fatah

  © Blogger templates Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP